Kalimat-kalimat berikut telah mengikuti pola S-V-O-M dengan benar, tapi kenapa masih banyak salahnya ya? Let’s take a look !

As usual, my heart went wild as our eyes blend. I’ve had that feeling for more than a year but I’ve never had a gut to tell her. That evening, however, I decided not to let the moment just pass by. After taking a deep breath, I let my hands reach hers, then, as fluently as I could, I told her how much she means to me. I saw her face blushing before she perfectly hide it from me by looking down to the sand on her feet. She said nothing. She keeps looking down motionlessly. “Do I have a place somewhere in your heart?”, I said to break the silence. When she slowly raised her head, there is a bead of tear hanging on her eyelid.  In confusion, I reached and hug her tightly. I felt a warm crystal perching then melts on my right shoulder. “Why do I have to wait for so long?” Her whisper was almost unheard but more than enough to make my confusion fade away.

 

*Seperti biasa, jantungku berdetak kencang ketika tatapan kami menyatu. Rasa itu sudah ada selama lebih dari setahun tapi aku tak pernah punya nyali untuk mengungkapkannya kepadanya. Namun, senja itu, kuputuskan untuk tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Setelah mengambil nafas dalam, kubiarkan tanganku menggapai tangannya, kemudian selancar yang aku bisa, aku katakan padanya betapa dia begitu berarti bagiku. Kulihat wajahnya merona sebelum dia dengan sempurna menyembunyikannya dariku dengan menundukkan kepalanya pada pasir-pasir di kakinya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia terus menunduk diam. “Apakah aku punya tempat di hatimu?”, kataku untuk memecah keheningan. Ketika dia perlahan mengangkat wajahnya, ada sebutir air mata menggantung di kelopak matanya. Dalam kebingungan, kuraih dan kupeluk dia dengan erat. Kurasakan setetes kristal hangat hinggap dan mencair di pundak kananku. “Kenapa aku harus menunggu begitu lama?” Bisikannya hampir tak terdengar tapi lebih dari cukup untuk membuat kebingunganku memudar.

Related Posts: